Friday, September 21, 2007

MEMBANGUN TRADISI ILMU DI BULAN RAMADAN


MEMBANGUN TRADISI ILMU DI BULAN RAMADHAN

Ditulis oleh Adian Husaini

Suatu ketika, pada akhir bulan Sya’ban, Rasulullah saw berkhutbah di hadapan para sahabat :
‘’Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa agung dan lagi penuh keberkatan; yaitu bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan ; bulan yang Allah telah menjadikan puasa-Nya suatu fardhu dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu perbuatan di dalam bulan itu, maka samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di bulan lain. Dan barangsiapa menunaikan suatu fardhu di bulan Ramadhan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran, pahalanya adalah surga. Ramadhan adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Barangsiapa yang memberi makanan berbuka di dalamnya kepada orang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari api neraka. Orang yang memberikan makanan berbuka puasa, baginya seperti pahala orang yang mengerjakan puasa itu, tanpa sedikit pun berkurang.’’ (HR. Ibn Khuzaimah dari Salman r.a.; dikutip dari buku Pedoman Puasa, karya Prof. Hasbi Ash-Shiddieqy, 1986:20, dengan sedikit perubahan redaksi terjemahan).

Sebagai muslim yang meyakini hal-hal ghaib, semisal soal pahala dan dosa, maka kita perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya dalam menyambut bulan Ramadhan. Di bulan inilah kita diberikan kesempatan untuk menabung pahala amal sebanyak-banyaknya, agar di akhirat nanti, timbangan amal baik kita lebih banyak daripada timbangan amal jahat; agar kita tidak muflis (bangkrut). Rasulullah saw menyebutkan adanya orang-orang muflis di hari kiamat. Yaitu orang-orang yang amal-amal baiknya habis dibagikan kepada orang lain. Orang seperti ini bangkrut karena semasa di dunia tidak menyelesaikan berbagai urusannya dengan orang lain, semisal masalah hutang, penyerobotan harta orang lain, penganiayaan, dan sebagainya. Karena itulah, seyogyanya kita memanfaatkan bulan Ramadhan untuk memperbanyak tabungan amal baik kita di akhirat.

Salah satu amal yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan urusan keilmuan, baik menuntut ilmu, mengajarkannya, atau segala aktivitas yang terkait dengan pengembangan keilmuan. Melalui ilmulah manusia dapat mengenal Allah dan memahami cara beribadah kepada-Nya dengan benar. Hanya dengan ilmu manusia dapat memahami mana yang benar dan mana yang salah, mana yang tauhid dan mana yang syirik, mana yang halal dan mana yang haram. Allah SWT menjanjikan:

”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujadilah:11)
Rasulullah saw juga bersabda:

”Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah menjadikannya faqih (memahami dengan baik) dalam masalah agama (Islam) dan mengilhami petunjuk-Nya.” (Muttafaq alaihi).

”Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban).

”Manusia itu laksana barang tambang seperti tambang emas dan perak. Orang-orang yang terbaik di masa jahiliyah adalah orang-orang yang terbaik juga di dalam Islam, apabila mereka memahami Islam.” (Muttafaq alaihi, dari Abu Hurairah).

Umar r.a. berkata: ”Kematian seribu ’abid (ahli ibadah) yang mendirikan malam dan puasa di siang hari adalah lebih ringan daripada kematian seorang ’alim yang mengetahui apa yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh Allah.”

Karena begitu pentingnya masalah keilmuan ini, maka Allah memerintahkan, dalam kondisi apa pun, maka masyarakat harus tetap memberikan perhatian terhadap ilmu.

Bahkan disaat perang sekali pun. ”Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu tentang agama.” (QS at-Taubah: 122). ”Maka tanyakanlah kepada orang yang mempunyai ilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nahl: 43).
Rasulullah saw bersabda:

”Barangsiapa menempuh jalan yang padanya dia menuntut ilmu, maka Allah telah menuntunnya jalan ke surga.” (HR Muslim).

”Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia lakukan.” (HR Ahmad, Ibn Hibban, dan Hakim).

”Barangsiapa didatangi kematian dimana dia sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka antara dia dan para Nabi di surga adalah satu tingkat derajat.” (HR Ad Darimi dan Ibn Sunni dengan sanad hasan).

Ibn Abbas r.a. berkata: ”Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai daripada menghidupkan malam itu.”

Imam Syafii rahimahullah berkata: ”Menuntut ilmu adalah lebih utama daripada shalat sunnah.” (NB. Hadits shahih dan hasan serta pendapat sahabat dikutip
dari Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Terjemahan oleh Drs. H. Moh. Zuhri, penerbit Asy-Syifa).

Para ulama yang merupakan pewaris para Nabi selama ini begitu gigih dalam mengembangkan keilmuan. Merekalah yang telah berjasa menjaga otentisitas Islam sehingga kita dapat mewarisi agama yang dibawa oleh Rasulullah saw ini. Kegigihan para ulama dalam mengembangkan keilmuan Islam begitu tingginya. Tradisi keilmuan itulah yang mampu mengantarkan kejayaan Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Apalagi, saat misi Islam itu mendapat dukungan dari para penguasa yang baik.

Saat berkunjung ke Indonesia, Prof. Wahbah az-Zuhaili, penulis kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu dan Tafsir al-Munir pernah ditanya, berapa jam beliau membaca dan menulis. Beliau menjawab: Tidak kurang dari 16 jam sehari. Imam Nawawi (w. 676 H), penulis Kitab Riyadhush Shalihin, al-Majmu’, dan Syarah Shahih Muslim, disebutkan bahwa beliau setiap hari belajar 8 cabang ilmu dari subuh sampai larut malam. Al-Mizzi, Ibn Katsir, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, Ibn Hajar, al-Suyuthi, al-Sakhawi, dan ulama besar lainnya, menyisihkan lebih dari 15 jam per hari untuk membaca dan menulis. (Kisah beberapa ulama ini dikutip dari buku Selangkah Lagi Mahasiswa UIN jadi Kiyai, karya Dr. Ahmad Lutfi Fathullah).

Karena begitu besarnya keberkahan dan pahala yang dijanjikan Allah di bulan Rmadhan, maka sayang sekali, jika bulan Ramadhan nanti tidak kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk menuntut ilmu dan mengembangkan berbagai aktivitas keilmuan lainnya.
Disamping berbagai aktivitas ibadah lain, aktivitas keilmuan harusnya tetap menjadi aktivitas utama di bulan Ramadhan. Ada tradisi yang baik di berbagai pondok pesantren di Indonesia saat memasuki bulan Ramadhan. Biasanya, mereka mengadakan ’pasan’, berupa kajian kitab-kitab di bulan Ramadhan secara maraton. ara santri, baik yang pendatang musiman maupun santri tetap, diwajibkan mengkaji kitab-kitab mulai habis subuh sampai malam hari, dengan beberapa kali penggal istirahat.

Tradisi keilmuan yang baik ini perlu dikembangkan lebih jauh. Sudah tiba saatnya di bulan Ramadhan ini, majlis-majlis taklim dan masjid-masjid bukan hanya mengadakan acara baca Al-Quran, tetapi juga mengadakan kajian tentang aqidah dan pemikiran Islam, kajian tentang ulumul Quran, ulumul hadits, bahasa Arab, dan berbagai kajian bidang keilmuan Islam lainnya. Sebab, virus-virus perusak pemikiran dan aqidah Islam kini bergentayangan begitu bebas di tengah-tengah kita.

Beberapa tahun belakangan ini, kita menyaksikan, kaum liberal di Indonesia juga ikut-ikutan memanfaatkan bulan Ramadhan ini untuk menyebarkan paham mereka.
Biasanya dilakukan dengan membuat program-program tertentu di media massa atau memanfaatkan forum buka bersama yang melibatkan berbagai aktivis lintas agama. Di zaman ’serba bebas’ seperti sekarang, kita tentu tidak bisa melarang mereka.

Apalagi, mereka disokong oleh kekuatan-kekuatan media dan pendanaan global. Yang bisa kita lakukan adalah memahami dengan baik, maka ide yang benar dan mana ide yang bathil, dari mana pun datangnya. Kita hanya menyatakan, bagi kita amal kita dan bagi mereka amal mereka. Masing-masing akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti.

Mudan-mudahan Allah meberikan berkah kepada kita di bulan Sya’ban ini dan memberikan kesempatan kepada kita untuk memasuki bulan Ramadhan tahun ini dalam keadaan iman yang selamat dan badan yang sehat wal ’afiat. Amin. [Dpok, 1 September 2007/ www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini merupakan kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Tuesday, September 18, 2007

SEPINTAS LALU...

(Ketika pertukaran belia Korea- ASEAN 2006, mewakili Malaysia. Bergambar di Gyanwone, antara lokasi drama cinta muda- mudi Winter Sonata)
(Bicara Siswa RTM, ketika Konvensyen Mahasiswa Melayu, anjuran GPMS 2006 di UIA)
(Ziarah Prof Wan Mohd Nor Wan Daud, di perpustakaan peribadinya)
(Bersama Dr Mujahid Rabbani, mantan Perdana Menteri Afghanistan yang berjaya menghalau tentera Rusia di Afghan. Bersama beliau dalam satu program di Istanbul, Turki 2005.

DUA MADRASAH, SATU MATLAMAT...

Alhamdulillah, seminggu yang lepas baru selesai mu'tamar PKPIM Pusat. Setahun memimpin PKPIM rasanya tidak banyak yang mampu dilaksanakan. Sekali lagi, diberi kepercayaan oleh ahli2 Majlis Kebangsaan Pelajar Islam (MKPI), teman2 exco dan teman2 perwakilan untuk menyambung tenure presidency, rasanya tugasnya semakin mencabar. Boleh saya ibaratkan, setahun pertama sebagai tahun 'percubaan', trial n error, dan banyak kelemahan sudah pasti. Saya terima kritikan, komen secara terbuka. Apabila memegang amanah jawatan, apa yang pasti, ianya bukan suatu kebanggaan yang perlu kita mashurkan, bukan juga 'habuan' keduniaan setelah mungkin kita aktif dalam organisasi. Jawatan adalah amanah yang perlu disempurnakan dengan baik.


Sekarang ini sudah Ramadan (masuk hari keenam), Alhamdulillah kita dipertemukan dengan sang Ramadan, bulan yang penuh Rahmah, Maghfirah, Barakah. Kita harus memaksimumkan bulan Ramadan ini untuk berebut ganjaran pahala yang telah dijanjikan. Sebagai individu Muslim yang bercita besar, bulan Ramadan ini sepatutnya menjadi 'madrasah ruhaniah' kita untuk memperbaiki diri. Ulama ada berkata, jika sebulan Ramadan, kemudian kita masih mengulangi perangai lama (kekal dalam maksiat, lambat solat, susah buat amalan sunat dll), bermakna Ramadan yang kita lalui tiada keberkatan. Macam kita masuk sekolah atau universiti, tiga atau empat tahun, kalau ilmu dan kelakuan masih sama, seperti mana yang sebelum masuk sekolah atau universiti, maka itu tandanya kita tidak mendapat apa2 sepanjang waktu itu.


Oleh itu, kita sama2 menyeru Ramadan ini sebagai medan memperhebat amal, pembinaan ruhiah yang mantap, pereratkan ukhwah sesama Muslim, kerana sebelas bulan mendatang merupakan medan perjuangan kita yang sebenar dan penuh dengan onak duri. Ramadan ini 'madrasah' muhasabah dan mengumpul kekuatan!

Tuesday, September 04, 2007

IKLAN 2...


Gambar Perkahwinan Hilmi+ Ruzieta, 19 Ogos 2007, Ahad, Muar, Johor.





Saya beberapa kali diminta oleh rakan- rakan untuk melihat gambar walimah tempoh hari. Setelah beberapa kali 'terlupa', akhirnya mampu untuk download di blog ini. Gambar seterusnya akan muncul kelak. Bagi yang tidak kesempatan hadir, insyallah bulan November ini diadakan di Manjung.

Saturday, September 01, 2007

Macam- macam...

Alhamdulillah, kerja amar ma'ruf nahi mungkar yang kita buat mendapat tentangan daripada sesetengah orang yang tidak suka. Memang normal pun, kalau semua yang kita buat mendapat pujian, dihampar dengan karpet merah, dipuja dan diraikan, memang mustahil. Nak memenuhi hati semua orang juga mustahil.

Saya diprovok beberapa kali oleh 'manusia' yang tidak dikenali mengenai pendirian PKPIM dengan konsert Stefani yang sudah pun berlangsung 21 Ogos lalu. Kita pun telah bertemu dengan penganjur berbincang dari hati ke hati tentang isu ini. Tahniah diucapkan kepada penganjur kerana sudi berbincang dengan kami.

Isunya sudah selesai. Tiada siapa yang kalah dan tiada yang menang. Jika pun konsert itu sudah berlansung, bukan bermakna kami sudah kalah. Pendirian dan mesej kami sudah disampaikan. Itulah kemenangan hakiki apabila menyatakan sesuatu pandangan membetulkan kesilapan (amar ma'ruf dan nahi munkar).

Ada yang mengatakan, kenapa kami sibuk dengan artis sorang tu je? Walhal banyak lagi isu- isu besar yang ada. Iya, kita tidak pernah meninggalkan isu2 besar yang difikirkan sesuai untuk menyatakan pendirian kami. Cuma mungkin, kebetulan media berminat bermain dengan isu itu lalu heboh satu Malaya dan seantaro dunia. (memang bukan nak menyalahkan media silap pilih isu). Banyak kenyataan dan pendirian yang kita pernah buat. Antaranya mendesak seorang Menteri Kabinet untuk minta maaf kerana tidak sensitif dengan isu penyerahan memorandum 10 Menteri bukan Islam kepada Perdana Menteri. Isu rasuah di kalangan orang besar pun kita ada buat. Respon kita kepada kezaliman ISA, dan banyak lagi. Boleh taip PKPIM di enjin Yahoo atau Google.

Hari Khamis lepas, dua orang wartawan Asian Times datang ke pejabat kami untuk menemuramah kami tentang isu bantah konsert itu. Come on la bro..kami tidak diminta untuk mendapat liputan berpanjangan macam ini. Perbincangan kami tidak kepada isu itu sahaja, banyak isu besar yang kami bincang atas permintaan saya dan persetujuan beliau. Antaranya beliau bertanyakan Malaysia negara Islam, komen tentang Malaysia 50 Tahun, kenapa Islam larang seks sebelum kahwin, Islam di Malaysia dan pelbagai lagi. Wartawan itu (Lelaki dari United States, lupa nama) memasang kamera video bagi merekodkan perbualan kami, sebagai bahan kajian beliau,

Selepas perbincangan itu, kami berborak tentang pelbagai isu penting, antaranya berdialog tentang agama. Beliau merupakan penganut free thinker. Banyak isu kontra yang beliau bangkitkan, seperti kenapa agama perlu ada moral, bukankah macam 'penjara' yang memetakkan manusia dalam kerangka yang mencengkan, kenapa Islam potong tangan pencuri dan lain- lain. Alhamdulillah, dialog menjadi perbualan yang mesra dan menarik, kerana tidak ada yang ego, provok, prejudis dan naik suara.

Oklah. Kesimpulannya, PKPIM tidak pernah menjadikan isu bantah konsert itu sebagai sebuah matlamat besar. Cuma picisan sahaja pun. Memang banyak lagi isu besar dan penting yang boleh didahulukan. Ada orang tanya, kenapa tidak bangkitkan isu2 rasuah orang2 besar? Kenapa juga perlu PKPIM mengikut telunjuk orang 'luar' untuk membuat sesuatu? Yang penting, amar ma'ruf nahi munkar akan sentiasa berjalan sama ada dengan kuasa, mulut dan hati yang membenci. Wallahu'alam.