Sunday, March 20, 2005

Perempuan Menjadi Khatib dan Imam Jumaat


Perempuan menjadi khatib ketika solat jumaah dan seterusnya menjadi imam mencatat sejarah paling buruk dalam sejarah kewanitaan Islam. Prof. Aminah Wadud, Profesor Pengajian Islam di Universiti Viriginia Commonwealth, USA pernah mencetuskan banyak kontroversi sekali lagi mencipta nama dalam sejarah, bukan untuk diagungkan tetapi dikritik.

Beliau sememangnya tergolong dalam kelompok yang keliru walaupun memiliki gelaran Profesor dan barangkali mempunyai otak yang briliant. Menuntut persamaan hak antara lelaki dan perempuan bukanlah perjuangan yang dituntut oleh para Nabi mahupun pejuang-pejuang wanita Islam yang lalu. Ini sebenarnya produk feminisme barat yang kecewa akibat perempuan tidak diberi layanan yang sempurna. Slogan perempuan ibarat Iblis, makhluk asing yang dihantar dan sebagainya bukanlah slogan yang lahir dari dunia Islam, akan tetapi dari pihak Barat.

Islam mengangkat tinggi martabat wanita hatta dalam hadis Nabi Muhammad saw apabila ditanya siapakah yang patut dihormati dahulu, antara bapa atau ibu? Nabi mengulang sebanyak 3 kali mengatakan ibulah yang menjadi keutamaan kemudian disusuli oleh bapa.

Justeru, gerakan menuntut persamaan hak dalam setiap konteks ibadat dan kehidupan merupakan tuntutan yang sia-sia. Percayalah, usaha Aminah Wadud itu sebenranya membuka pekung di dada bahawa beliau adalah golongan yang keliru dalam memahami hikmah syariat Islam. Inilah yang dikatakan loss of adab; apabila benda yang hak tidak diletakkan ditempat yang sebenarnya.

Satu kisah yang menarik untuk diperhatikan, apabila satu masa Prof. Naqib AL-Attas ketika belajar di UK. Dalam satu bas menuju ke universiti, beliau duduk dan di sebelahnya ada seorang perempuan tua. Kebetulan ramai orang ketika itu menyebabkan tiada tempat yang kosong. Lalu, punyalah lama perjalanan itu menyebabkan perempuan tua itu merungut dan marahkan Prof. Naqib kerana dia terlalu penat. Kemudian dengan tiada segan silu, Prof Naqib menjawab,"Apakah ini yang kamu mahukan? Jika orang lelaki boleh berdiri, sepatutnya perempuan juga patut berdiri"(Maksudnya: Itulah namanya adil atau saksama yang Barat mahukan)

Kesimpulan daripada cerita benar ini ialah persamaan yang bagaimana yang kita mahukan? Sepatutnya kita mesti jelas bahawa ada perkara yang boleh diberi hak yang sama dan ada yang ditetapkan oleh syariat tiada persamaan dalamnya antara lelaki dan perempuan.






Gambar Aminah Wadud selesai menjadi imam solat Jumaat
(www.maktoob.com)





Berikut adalah komen daripada Pak Adian, mahasiswa ISTAC:
(insistnet@yahoogroups.com)


Disebabkan tindakan Wadud sebagai imam dan khatib, dan ibu Musdah
Mulia yang mempelopori KHI, maka gerakan feminis Internasional
menganugerahkan keduanya sebagai tokoh wanita internasional pada
tahun ini. Dari sini, kita melihat tindakan dan pemikiran para feminis
Muslim tidak terlepas dari "mafia internasional." Sebagaimana Uskup
Belo dan Ramos Horta dulu telah mendapatkan "noble price".

Mari kita fokuskan diskusi mengenai perbuatan Wadud yang jadi imam
sekaligus khatib shalat Jum'at.

Sebelumnya, terima kasih atas studi awal antum mengenai masalah ini.
Bagaimanapun, beberapa persoalan masih perlu diselesaikan.

Pertama, kita masih belum tahu alasan Wadud menjadi imam sekaligus
khatib shalat Jum'at. Kemungkinan, argumentasi Wadud akan
berkembang biak, membengkak, justru setelah Ia jadi imam dan khatib
shalat Jum'at. Ia memerlukan bukti2 untuk menjustifikasi tindakannya.
Komentar Prof. Taha Jabir dan alasan2 yang antum kemukakan akan
menambah bukti kepadanya.

Bagaimanapun, Wadud belum tentu akan menggunakan pendapat al-
Tabari, Abu Tsaur dan al-Muzani. Sebabnya dia sendiri mengkritik
bukan hanya al-Tabari, namun mayoritas mufassir dan fuqaha karena
mendiskrimaniskan wanita. Oleh sebab itu, berdasarkan karya tafsir al-
Tabari, saya menyimpulkan justru al-Tabari akan menolak pendapat
Wadud berkaitan dengan hal2 kewanitaan. Al-Tabari yang dikritik
Wadud digunakan untuk membela Wadud. Terasa janggal.

Kedua, Jangankan hadits, seandainyapun ada ayat di dalam al-Qur'an
berkaitan dengan isu tersebut, maka Wadud akan
menggunakan "pandangan hidup feminis" untuk menafsirkannya.
Menggunakan "pendekatan feministik" sudah dilakukan Wadud dengan
baik, dalam karyanya Wanita di dalam al-Qur'an (Woman in the
Qur'an). Di dalam karya tersebut, Wadud mengolah ayat-ayat al-Qur'an
untuk menjustifikasi pendapatnya. Masalah yang dihadapi bukan
saja "bahan baku." Namun pengolahan "bahan baku" ayat al-Qur'an
atau hadith. Bagi saya, alat untuk mengolah, bukan di dapat dari tradisi
kaum Muslimin. Alat pengolahan itu dimport dari feminis Barat.
Buktinya, selama 1400 tahun dari seluruh wanita Muslimah yang ada di
seluruh Negara di Dunia, dari zaman ke zaman, tidak pandang bulu
mazhab fikh, teologi, bahkan akidah, untuk pertama kalinya baru
Wadud, seorang wanita, yang menjadi Imam dan khatib shalat Jum'at.
Oleh sebab itu, bagi saya, Wadud telah menjadi wanita yang sangat
langka. Apakah "spesis yang sangat langka" akan membiakkan
keturunannya? Apa yang terjadi selama 1400 tahun kepada wanita
Muslimah di seluruh dunia? Apa yang dilakukan oleh para fuqaha lintas
mazhab dari seluruh dunia, dari zaman ke zaman selama 1400 tahun
mengenai masalah ini? Mengapa sebelum ini selama 1400 tahun tidak
pernah terjadi? Mengapa Wadud yang melakukannya, bukan orang lain?
Apa yang melatar belakangi Wadud melakukan itu? Apa alasannya?
Mengapa dia ingin jadi imam sekaligus khatib? Ringkasnya, tindakannya
itu terkait dengan cara berfikirnya. Kita tidak bisa menilai hanya shalat
dan khutbah Jum'atnya saja, tanpa melihat gagasannya yang lain
(sebagaimana tambahan masalah yang diajukan mas Fahmi). Masalah
ini sangat perlu dilihat secara utuh. Dan kita sama sekali idak dan belum
tahu, apalagi membahas apa alasan Wadud berbuat demikian.
Disebabkan tindakan Wadud termasuk betul-betul baru sama sekali,
maka mengkiaskan dengan kadal, shalat tarawih dsb, tidak tepat.

Ketiga, kita tidak punya sumber primer, hanya sekunder.
Bagaimanapun, sumber sekunder tetap bisa digunakan. Masalahnya,
siapa yang pertama kali membolehkan wanita jadi imam sekaligus
khatib dalam shalat Jum'at? Apakah betul al-Tabari, abu Tsaur dan al-
Muzani membolehkan wanita jadi imam sekaligus khatib dalam shalat
Jum'at? Dari tulisan antum, pernyataan eksplisit al-Tabari, Abu Tsaur
dan al-Muzani tidak ada. Selain itu, apakah al-Tabari, abu Tsaur dan al-
Muzani memiliki sumber yang sama dalam menyimpulkan wanita jadi
imam shalat Jum'at? Ataukah al-Muzani menggunakan sumber para
pendahulunya? Apakah betul al-Tabari, abu Tsaur dan al-Muzani
membolehkan wanita jadi iman sekaligus khatib shalat Jum'at? Apa alas
an mereka?

Dari mana Ibn Rushd, ibn Quddamah mendapatkan informasi mengenai
bolehnya wanita jadi imam (khatib shalat jum'at?) Siapa pendahulu
mereka? Apakah Ibn Rushd dan ibn Quddamah mendapatkan informasi
yang sama? Apakah Wadud sudah membahas secara menyeluruh
mengenai masalah2 diskusi yang seperti kita lakukan?
Berbagai pertanyaan2 tersebut memerlukan penelitian yang mendalam.

Keempat, disebabkan tidak ada wanita yang jadi imam sekaligus khatib
dalam shalat Jum'at ketika zaman al-Tabari, abu Tsaur dan al-Muzani,
maka tindakan Wadud tidak berdasarkan fakta sejarah. Sejarawan
Muslim baik yang sezaman atau setelah mereka akan merekam jika ada
peristiwa-peristiwa seperti itu karena penting untuk pengetahuan kaum
Muslimin. Namun, tidak ada sejarawan Muslim yang mencatat itu.

Kelima, alasan "timing" bagi saya sangat lemah. Sebabnya, pada zaman
Islam, zaman Rasulullah saw, zaman dimana kondisi umat Islam kuat,
zaman kegemilangan Islam dll, tidak pernah terjadi perbuatan yang
sangat langka itu. Mengapa? Salah satu jawabannya, pendekatan
feministik tidak digunakan oleh para mufassir dan fuqaha..

Keenam, sekalipun tidak bisa menguraikannya sekarang, saya
berpendapat, alasan para jumhur tidak diredusir hanya kepada dalil
yang antum telah sebutkan.

Terakhir, namun bukan paling akhir, saya mengikuti pendapat para
jumhur. Dan saya yakin, para fuqaha lintas mazhab dari berbagai
Negara akan segera mengkritik tindakan Wadud yang untuk pertama
kalinya dalam sejarah Islam menjadi imam dan khatib dalam shalat
Jum'at. Dan Wadud akan dicatat dalam sejarah sebagai tokoh
kontroversi. Bukan untuk dihormati, tapi untuk dikritisi. Bagi saya, terlalu
banyak agenda yang perlu dilakukan Wadud untuk memberdayakan
wanita, bukan dengan cara mencetuskan kontroversi.

1 comment:

faisol said...

terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/